Sempat Muak pada Doktrin Junjung Pancasila, Orang Ini Akhirnya Akui Bahwa Soeharto Benar, Kok Bisa?

Masih dalam suasanya mengenang peristiwa G 30 S PKI muncul beberapa isu terkait hal itu.
Hal yang paling gencar diperbincangkan adalah soal penayangan kembali film "Pengkhianatan G30S/PKI".

Bahkan ajakan untuk menonton film ini muncul dari pihak TNI.



"Seluruh kesatuan baik dari AL, AU dan AD diinstruksikan untuk nonton G30S/PKI," kata Gatot di sela-sela acara bakti sosial dalam rangka memperingati HUT TNI AU di Dermaga Indah Kiat Merak, Banten, Kamis (28/9/2017).

Menurut Gatot, pemutaran ulang film G30S/PKI ini penting karena banyak kaum milenial yang tak tahu PKI.

Tujuannya adalah agar kasus ini tak berulang.

Film tersebut menggambarkan peristiwa sejarah pada 1 Oktober 1965.

Namun ajakan untuk nobar film "Pengkhianatan G30S/PKI" ini menimbulkan pro dan kontra.
Masyarakat menilai dengan adanya ajakan menonton film ini, rezim lama bisa muncul kembali.

Sebagaimana kita ketahui film ini sempat diputar setiap tahun di zaman pemerintahan Soeharto.
Masa pemerintahan Soeharto juga dipenuhi dengan doktrin seputar Pancasila dan nasionalisme.

Zaman dahulu setiap anak sekolah selalu diajarkan untuk bisa menyanyikan lagu nasional.
Siswa juga harus hafal Teks Proklamasi, UUD 45, dan Sumpah Pemuda.

Namun hal ini malah membuat orang-orang di zaman itu menjadi muak.
Seperti yang dirasakan oleh pengguna Facebook bernama Rudi ini.

Dia mengaku muak dengan semua doktrin-doktrin junjung Pancasila dan anti komunis yang terus diberikan semasa pemerintahan Soeharto.
Namun akhirnya dia sadar bahwa Soeharto ada benarnya.

Rudi mengakui semua yang dilakukan Soeharto itu tidak sepenuhnya salah.

Pria ini memberikan pengakuannya dalam sebuah tulisan di Facebook yang diunggah pada 25 September 2017 berikut ini.

"PENGAKUAN YANG TERTUNDA..

Pak, pada akhirnya kami harus akui Bapak Benar.Bertahun-tahun selama menimba ilmu di sekolah tak hentinya kami dicekoki pelajaran Penebal Nasionalisme.

Pelajaran bagaimana mencintai Bangsa ini dan bagaimana menjaga Kedaulatannya dari berbagai ancaman, terutamanya KOMUNIS.

Dulu kami hampir muak serta bertanya-tanya ke arah mana Bapak akan membawa kami dengan doktrin-doktrin Junjung Pancasila dan ANTI KOMUNIS.

12 tahun menimba ilmu di sekolah lagi dan lagi otak kami diasup, mental kami diperkokoh dengan pelajaran yang sama.

Kami layaknya robot yang hanya tahu PANCASILA itu Harus Dijaga, Paham Komunis itu Berbahaya dan Tidak Boleh Diberi Ruang dalam NKRI.Tidak cukup di bangku sekolah, di layar kacapun doktrin-doktrin yang sama hampir tidak pernah absen.

Lagu Garuda Pancasila beserta gambar dan penjelasan kelima silanya jadi Menu Wajib pembuka Siaran, pun saat akhir siaran lagu-lagu penggelora Patriotisme tayang bergantian.

Terus terang kami jenuh dengan tayangan yang itu-itu saja, gerutu kami ; ga di sekolah ga di rumah, semua sama !

Rasanya waktu itu sangat jarang anak usia sekolah Tidak Hapal Pancasila, Teks Proklamasi, UUD'45, Sumpah Pemuda dan Lagu-lagu Nasional.

Kesemuanya itu wajib dan jadi "Dosa Besar" jika sampai tidak lancar dalam pengucapannya.
Ketika TV Swasta mulai tumbuh giranglah hati sebab kami tidak harus lagi "makan" tayangan-tayangan wajib tersebut.Kepala kami seperti bebas dari jarum suntik berisi doktrin-doktrin yang bikin kram otak.

Doktrin-doktrin tentang Ideologi Negara dan Patriotisme terlelap bersama waktu seiring lengsernya Bapak sebagai Pemimpin.

Namun itu semua tidak lenyap, hanya tidur sejenak.Alarm bernama Perpecahan dan Kebangkitan PKI membangunkan doktrin-doktrin tersebut dari tidurnya.

Bekal yang Bapak selipkan ke Jiwa Anak Bangsa semasa Bapak memimpin sekarang punya arti dan Harga Yang Tidak Terukur.

Bapak telah Menamengi jiwa kami dengan doktrin-doktrin yang pernah kami cap menjemukan.
Sekarang kami tahu bahwa kami dipersiapkan sebagai Para Penjaga Kedaulatan Ibu Pertiwi, kami yang Mencintai Tanah Air ini dengan Kebanggaan.

Kami,Bapak tempa agar selalu mawas diri supaya tidak lagi kecolongan oleh musuh yang sama bernama KOMUNISME.

KOMUNISME yang saat ini mencoba bangkit dari mati surinya dengan membonceng kaum HEDONIS pemuja kebhinekaan, bukan Bhinneka Tunggal Ika.

Berkat bekal yang Bapak beri niscaya kami siap melawan gempuran dan tidak akan kami biarkan Bangsa ini tunduk pada penguasa tamak berhaluan kiri (KOMUNIS).

Terima kasih Pak untuk bekalnya.

Semoga allah swt menempatkan Bapak di tempat terindah disisinya
Aamiin yra"

Rudi sadar bahwa yang dilakukan Soeharto saat itu adalah untuk kepentingan bangsa Indonesia sendiri.

Soeharto tak ingin faham komunisme ada lagi di tanah air dan memecah Indonesia.
Postingan Rudi ini telah menjadi viral dan banyak dibagikan di Facebook.

Saat diakses Tribun Style (2/10/2017) postingan ini telah mendapatkan lebih dari 22 ribu share, 66 ribu like dan 20 ribu komentar.

Apakah kalian sepakat dengan tulisan Rudi ini?

(TribunStyle.com/Rifan Aditya)

Related Posts

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter